Sabtu, 14 Maret 2009

"Ui Kiay api khabar? Lagi ngapi?" Wat Mubil? Tulung pai kiay antak pai sikam"

"Ui Kiay api khabar? Lagi ngapi?" Wat Mubil? Tulung pai kiay antak pai sikam"

Pembicaraan ini yang terjadi ketika penulis dan keluarga sampai di Kurungan nyawa ,sebuah pertigaan tempat pemberhentian Bis di Kabupaten OKU Timur Sumatera selatan.

Tidak seperti biasanya bis yang saya naiki jalannya pelan sehingga saya dan keluarga hampir kemalaman di jalur komering yang akhirnya terjadilah percakapan diatas, masuk jalur Komering pada sore menjelang malam hari memang sedikit tegang bagaimana tidak dikiri dan kanan jalan masih banyak terdapat pepohonan dan kebun masyarakat sekitar dan sekali sekali baru terdapat "Tiuh" ( sebutan desa oleh penduduk sekitar) inilah kemungkinan angkutan tidak berani lewat jalur itu ,tapi sebenarnya ketegangan itu tidak perlu terjadi karena masyarakat sekitar sangat bersahabat Cukup katakan "Tulung pai " yang berarti Permintaan tolong Nah pada kejadian ini penulis sangat senang karena orang yang saya minta tolong itu langsung respon mungkin dengar kata - kata tadi dan bersedia mengantarkan saya tanpa menanyakan masalah ongkos , itulah yang jadi dalam lamunan saya selama perjalanan saya harus membayar berapa untuk kebaikan Bapak yang saya panggil kiay ini tanpa terasa tiuh demi tiuh telah dilewati dan saya lihat pada Phonsel saya sepanjang perjalan tersebut sinyalnya tetap ada dalam hati wah tiuh sekarang sudah tambah maju ,dan ahirnya Ciit suara rem kendaraan yang saya tumpangi berhenti, seketika lamunan saya menjadi buyar betapa tidak ternyata penulis sudah sampai di depan rumah tiada kata kata yang terucap selain terima kasih Kiay eh dan tanpa sengaja tangan saya mengeluarkan uang 2 lembar dan penulis ulurkan kepada Bapak sopir tadi yang penulis panggil kiay apa yang terjadi? dik 1 saja katanya , tp penulis bilang tidak kiay kalau kiay tidak mau yang satu ini kasihkan ke Ayuk untuk "Bubuka" ( Lebaran) .

sungguh menjadi kebanggaan tersendiri semoga adat tolong menolong warga disini Khususnya Komering tetap terjalin amin.

Dan ahirnya penulis jadi Bubuka (lebaran ) di Tiuh Sengaja Bahasa daerah penulis sisipkan Karena Penulis kangen banget dengan bahasa tersebut.


Pemberian "GOLAR" di Masyarakat Komering

Tulisan berikut ini akan komering angkat dengan judul "Gelar …sebuah identitas pengakuan……." Di tulisan ini akan coba komering angkat apa itu gelar, kapan diberikan dan fungsi serta manfaat yang diberikan pada "Gelar" tersebut.


Dalam masyarakat komering ada beberapa macam tingkatan yang dapat dibedakan dalam pemberian gelar tapi komering tak akan membahas tingkatan tersebut. Disini komering akan membahas tentang gelar dan fungsinya.




Gelar dalam masyarakat komering berhubungan dengan status yang ada dalam dirinya yaitu ketika seorang laki-laki komering menikah dia akan mendapat gelar atau sebutan, gelar ini dapat diberikan saat silelaki tersebut menikah ataupun pada waktu-waktu mendatang (beberapa waktu setelah menikah).




Pemberian gelar ini sangat penting dalam masyarakat komering sehingga adat ini masih dipegang kuat dalam masyarakat komering dari zaman ke zaman, pemberian gelar ataupun biasa disebut juluk ataupun Golar…… tergantung pada gelar yang di dapat dari orang tua misalkan gelar yang didapat ayah dari lelaki komering adalah prabu maka biasanya gelar sang anak yang telah menikah akan turun menjadi prabu, dan diikuti nama juluk atau nama gelar nya anak tersebut yang diberikan oleh ketua adat dengan persetujuan orang tua, bila orang tuanya ber-gelar-raden maka anak laki-laki yang telah menikah tersebut akan mendapat gelar Raden dan dikuti dengan nama juluk nya, begitu pula bila nama orang tuanya bergelar ratu dan seterusnya hingga proses pemberian gelar tersebut terjadi.


Biasanya pemberian gelar tersebut dibarengi dengan berbagai Ritual yang bercampur dengan ritual keagamaan (Islam) yang berisi doa dan pengharapan orang tua maupun keluarga serta masyarakat agar dengan gelar yang diberikan si lelaki tersebut dapat menjadi orang yang akan memimpin dalam kebaikan baik memimpin diri, keluarga dan lebih-lebih masyarakat luas nantinya.




Setelah sedikit banyak mengulas tentang siapa yang berhak menerima gelar tersebut mungkin diantara pembaca ada yang bertanya mengapa bercerita tentang lelaki yang telah berkeluarga.bukan pada setiap lelaki komering. Inilah salah satu fungsi utama mengapa pemberian gelar tersebut diberikan pada lelaki yang telah menikah yaitu sebagai pembeda penyebutan nama karena biasanya penyebutan nama (memanggil) seseorang dilakukan dengan menyebut nama yang telah diberikan oleh orang tua ataupun keluarga sejak lahir, tetapi bila dia telah menikah dia akan di berikan Gelar yang nantinya ketika penyebutan nama nya (memanggil) orang tersebut dia akan dipanggil dengan gelar yang telah didapat ketika telah menikah. Penyebutan tersebut berlaku pada siapapun yang memanggil termasuk orang tua dari lelaki yang telah menikah jadi ketika contohnya bila dia sedang berkumpul dengan kerabat yang lebih muda (belum menikah) dia akan mendapat perbedaan status di depan orang banyak, dengan adat pemberian gelar inilah dapat diketahui status seseorang walaupun orang lain tidak mengetahui status yang telah didapatkannya (menikah atau belum).




Mungkin banyak pembaca yang bertanya bagaimana dengan gelar yang jatuh pada istrinya, gelar tersebut diberikan oleh ketua adat untuk seorang yang telah menikah dengan secara otomatis mengikutkan penyebutan (memanggil) sang istrinya sama dengan gelar yang diterima sang suami contoh bila sang suami mendapat gelar raden makan sang istri akan di sebut nyiraden atau niai raden dan seterusnya yang berlaku pada gelar yang diberikan pada sang suami.





Demikianlah salah satu adat yang masih bertahan di masyarakat komering yang masih tetap bangga kami pegang dan kami pelihara semoga tulisan ini akan membuka wacana baru tentang adat dan istiadat masyarakat komering……..